Burakai - Manusia dan alam merupakan satu kesatuan. Hubungan dua elemen itu, seakan tidak bisa dipisahkan. Namun dalam perkembangan manusia modern, alam seakan menjadi objek untuk meneguhkan dan meneruskan kehidupan manusia. Alam yang rusak, sampah dimana-mana, berimplikasi kepada banyaknya bencana alam yang memakan banyak korban jiwa. Disinilah diperlukan kesadaran ekologis manusia untuk paham dengan alam. Manusia yang secara sadar peduli dengan alam. Yang menarik adalah, masyarakat kita, dahulu begitu menghargai alam. Hal ini terbukti dengan adanya nyadran atau yang lebih kita kenal bersih desa, sebagai bentuk rasa bersyukur kita kepada tuhan yang Maha Esa.
Bersih Besa (nyadran) merupakan tradisi turun temurun dalam kebudayaan masyarakat. Bersih Desa (nyadran) dapat didefinisikan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan dan kesejahtraan yang telah di peroleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahtraan warga desa untuk satu tahun mendatang. Bersih Desa sendiri biasanya dilaksanakan satu kali dalam setahun yaitu menjelang bulan suci ramadhan (bulan sya'ban), dan tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun hingga saat ini.
Bersih Desa (nyadran) tidak selalu sama di setiap daerah atau desa karna memang leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda di setiap daerah. Oleh karena itu upacara adat yang dilaksanakan pun berbeda.
Bersih Desa (nyadran) di awali dengan kirim do'a bertujuan untuk mendo'akan keluarga dan juga leluhur yang sudah mendahului. Warga sekitar pun membawa hasil bumi mereka untuk di sedekahkan untuk di nikmati bersama-sama, sebagai bukti perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang Maha Esa atas kesejahtraan dan kesehatan yang diberikan kepada warga desa.
Nah, itulah kemudian bersih desa menjadi sebuah upaya pelestarian alam. Dengan modal sosial dan budaya yang telah turun temurun, menjadikan tradisi bersih desa sangat penting untuk membentuk Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahtraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).